PERLAWANAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM INDONESIA TERHADAP IMPERALISME
A.
Ekspansi Eropa terhadap dunia islam
Bersamaan waktunya dengan
kemunduran tiga kerajaan islam di periode pertengahan sejarah Islam, Eropa
Barat sedang mengalami kemajuan dengan pesat. Hal ini berbanding terbalik
dengan dengan masa klasik sejarah Islam. Ketika itu, peradaban islam dapat dikatakan
paling maju, memancarkan sinarnya ke seluruh dunia, sementara Eropa sedang
berada dalam kebodohan dan keterbelakangan.
Kemajuan Eropa (Barat) memeng
bersumber dari Khazanah ilmu pengetahuan dan metode berpikir Islam yang
rasional. Di antara saluran masuknya peradaban islam ke Eropa itu adalah perang
salib dan yang terpenting adalah Spanyol islam. Ketika islam mengalami kejayaan
di Spanyol, banyak orang Eropa yang dating belajar di sana, kemudian
menerjemahkan karya-karya ilmiah uamt islam. Hal ini di mulai sejak abad ke- 12M,
setelah mereka pulang ke negeri masing-masing, mereka mendirikan Universitas
dengan meniru pola Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dipelajari di
Universitas-universitas Islam itu. Dalam perkembangan selanjutnya, keadaan ini
melahirkan Renaissance, Reformasi,
dan rasionalisme di Eropa.[1]
Terangkatnya perekonomian
bangsa-bangsa Eropa di susul pula dengan penemuan dan perkembangan dalam bidang
ilmu pengetahuan. Perkembangan itu semakin dipercepat setelah mesin uap
ditemukanyang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa. Teknologi
perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, Eropa menjadi
penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan
ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan yang masih
menggunakan persenjataan tradisional.
Mereka melakukan berbagai
penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan dan menjelajahi
benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan, setelah Christopher
Colombus menemukan benua Amerika (1492
M) dan Vasco da Gama menemukan jalan ke timur melali Cape Town (1498 M) benua
Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu,
sungguh tak terkirakan nilainya.
Lebih-lebih lagi neraca sumber
bahan-bahan berubah bagi keuntungan Eropa, daerah-daerah baru terbuka, mereka
dapat memperoleh kekayaan yang tak terhingga untuk menghidupkan negerinya. Maka
tidak lama setelah itu mulailah kemajuan Eropa yang mengatasi Asia. Apa artinya
sumber-sumber bagi islam timur yang rapuh itu, apabila dibandingkan dengan
sumber-sumber dari Amerika dan kepulauan India yang telah jatuh ke Eropa.[2]
Sementara itu, kemorosotan kaum
muslimin tidak terbatas dalam bidang ilmu dan kebudayaan saja, melainkan juga
di segala bidang. Mereka ketingalan dari Eropa dalam industri perang, padahal
keunggula Turki Usmani di bidang ini pada masa-masa sebelumnya di akui oleh
seluruh dunia.
Dengan organisasi dan persenjataan
modern pasukan perang Eropa mampu melancarkan pukulan telak terhadap
daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti
kerajaan usmani ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan Eropa dan kerajaan
Mughal ketika berhadapan dengan Inggris. Daerah-daerah kekuasaan Islam lainnya
juga mulai berjatuhan ke tangan Eropa, Negeri-negeri Islam yang pertama kali
jatuh ke bawah kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri yang jauh dari pusat
kekuasaan kerajaan Usmani, karena kerajaan ini meskipun terus mengalami
kemunduran, ia masih di segani dan dipandang
masih cukup kuat untuk berhadapan dengan kekuatan militer Eropa waktu
itu. Negeri-negeri Islam yang pertama dapat dikuasai barat adalah negeri-negeri
Islam di Asia Tenggara dan di anak Benua India. Sementara negeri-negeri Islam
di timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani baru diduduki
Eropa pada masa-masa berikutnya.
Benturan-benturan antara kerajaan
Islam dan kekuatan Eropa itu menyadarkan umat Islam bahwa mereka memang sudah
jauh tertinggal dari Eropa. Kesadaran itulah yang menyebabkan Umat Islam di
masa modern terpaksa harus banyak belajar dari Eropa, perimbangan kekuatan
antara umat Islam dan Eropa berubah dengan cepat.[3]
Umat Islam kehilangan segala yang
pernah dimiliki. Namun terjadi sesuatu yang diluar dugaan manusia, ternyata
bangsa yang menghancurkan daulah Islamiyah yang berpusat di Baghdad itu,
keturunannya justru menjadi pembangun dan pembela agama islam dan kebudayaany
yang gigih sehingga agama islam menjadi tumbuh dan mekar kembali. Demikian juga
di luar daerah bekas kekuasaan daulah Abbasiyah, yaitu daerah Andalusia dan
Afrika Utara, kebudayaan Islam tidak musnah bahkan mengalir ke Eropa membangun
zaman renaissance Eropa.[4]
B. Pengaruh Penetrasi Barat terhadap
Dunia Islam
Dari
awal penjajahan Barat, yaitu perang salib, umat Islam telah kehilangan berbagai
daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan orang
Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib ini
telah terjadi penaklukan dan penetrasi yang dilakukan oleh negara Barat untuk
merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam. Tidak terhingga kerugian yang
diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban
manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa.
Negara-negara Barat seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Rusia dan
lain-lain memang mempunyai tehnologi militer dan industri perang yang lebih
canggih dibandingkan dengan negara Islam, sehingga mereka tidak segan-segan untuk
menyerang dan mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Islam.
Dari awal penjajahan Barat yaitu perang salib umat Islam telah kehilangan
berbagai daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan
orang Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib
ini telah terjadi penaklukan dan penyerangan yang dilakukan oleh negara Barat
untuk merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam. Tidak terhingga kerugian yang
diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban
manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa, bahkan Richand yang
digelari berhati surga menyembelih 27.000 orang tawanan Islam.
Selain
berupa penaklukan dan penyerangan negara-negara Barat juga banyak melakukan
penindasan, penghisapan dan perbudakan, yang sangat bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan. Penindasan dilakukan kepada wilayah-wilayah yang telah
dikuasainya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Penghisapan terutama
pada hasil bumi dan kekayaan alam negara yang dijajahnya serta perbudakan
banyak dialami oleh orang-orang Islam yang wilayahnya telah jatuh ke tangan
negara-negara Barat.Perang Salib menjadi awal mula penetrasi Barat terhadap
dunia Islam. Sejak itu lahirlah imperialisme dengan bentuk penindasan,
penghisapan, perbudakan yang merupakan lembaran hitam umat manusia yang hina,
keji dan jahat. Bangsa Barat mempunyai semboyan yang terkenal dengan M3
(Mercenary, Missionary, Military), yaitu keuntungan, penyiaran agama dan
perluasan daerah militer.
Pengaruh bangsa-bangsa barat juga
menimbulkan penerimaan sistem nilai-nilai baru, kesadaran akan identitas
nasional dan partisipasi politik, keterlibatan ekonomi, aktivisme moral dan
pandangan dunia yang baru. Selanjutnya modernisasi (pembaharuan) menimbulkan
perubahan ekonomi dan politik, organisasi sosial dan nila kultur yang terkait.
Seluruh perubahan tersebut melibatkan adopsi dan reaksi pola dasar peradaban
bangsa barat dalam menerangkan masyarakat Islam yang lama.
C.
IMPEREALISME
BARAT TERHADAP ISLAM
Dengan melemahnya kekuatan politik dan militer Islam yang
disebabkan konflik berkepanjangan dalam tubuh Islam sendiri seperti yang
terjadi pada kerajaan Turki Utsmani, Mughal dan Safawi maka lahirlah babak baru
dalam sejarah dunia Islam, yaitu babak penjajahan Barat terhadap dunia Islam,
sebagai counter gerakan dunia Islam yang terwujud dalam gerakan sporadis dari
setiap wilayah yang dijajah karena ingin merdeka, sebab kekuatan integratif
maupun kordinatif yang mempersatukan Islam sudah tidak mendapat legitimasi dari
masyarakat Islam. Sementara itu, masa depan Islam bertumpu pada sejauh mana
kekuatan Islam melakukan perlawanan, kendati bersifat lokal.
Masuknya bangsa Eropa ke dunia Islam,
dengan menancapkan kuku-kuku mereka, telah banyak merubah tatanan kehidupan
masyarakat Islam, bahkan tidak sedikit mereka negara-negara Islam yang mereka
jajah hingga berabad-abad. Alasan lain yang menjadikan bangsa barat melakukan
ekspansi dan kolonialisme terhadap dunia timur dalam hal ini Islam adalah
jatuhnya Komunisme pasca Perang Dunia II dan muncul anggapan baru bahwa Islam
sebagai “Calon” musuh Utama mereka.
Implikasi dominasi ekonomi dan kolonial
Eropa terus berlangsung. Pemerintah kolonial merusak keseimbangan institusi
yang telah membentuk sistem masyarakat Muslim pra modern dan menimbulkan
kemunduran kekuatan politik masyarakat Muslim di seluruh dunia dan
menimbulkan reaksi kehadiran Muslim dibeberapa wilayah tertentu. Imperium
Utsmani kehilangan kekuasaan atas wilayah Balkan, dan warga Muslim di asia
Tengah akhirnya jatuh di bawah kekuasaan Rusia dan China. Sepeninggal Imperium
Mughal, anak benua India menjadi terpecah. Negara-negara jihad Muslim di Afrika
tertundukkan. Dalam banyak kasus Warga Muslim minoritas di tengah masyarakat
yang di dominasi oleh warga non-Muslim.[5]
Dominasi bangsa barat di seluruh wilayah
Muslim diperuntukan bagi pemaksaan institusi dan pola kultural mereka terhadap
bangsa-bangsa non barat. Intervensi politik barat dalam hal ini eropa, atau
kontrol mereka yang berlebihan, mengantarkan pada konstruksi (pembentukan)
negara-negara teritorial birokratik yang mengintegrasikan perekonomian
bangsa-bangsa Barat yang diwakili Eropa dan penetrasi kaum kapitalis
menimbulkan berkembangnya perdagangan yang bersifat eksploitatif. Kekuatan
Barat memaksa dan mendesak bangsa lain mendirikan sekolah-sekolah modern dan
menanamkan nilai-nilai peradaban Barat dan sedapat mungkin mereka memadukan
dengan kultur lokal.
D.
Bangkitnya Nasionalisme Dunia Islam
Sebagaimana telah disebutkan,
benturan-benturan antara islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat islam
bahwa mereka memang jauh tertinggal dari
Eropa. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya, Turki Usmani, kerena kerajaan
ini yang pertama dan utama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa
penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banyak belajar dari Eropa.
Usaha untuk memulihkan kembali
kekuatan Islam pada umumnya yang dikenal dengan gerakan pembaharuan yang di
dorong oleh dua factor yang saling mendukung. Pertama pemurnian ajaran Islam
dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran islam ,
kedua,menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari barat.
Semangat pan- Islamisme yang
bergelora ini mendorong sultan kerajaan Turki Usmani, Abd al- Hamid II
(1876-1909) untuk mengundang al Af-Ghani ke Istambul. Ibu kota kerajaan.
Gagasan ini dengan cepat mendapatkan sambutan hangat dari negeri-negeri islam.
Akan tetapi semangat demokrasi al-Afghani tersebut menjadi duri bagi kekuasaan
Sultan, sehingga al-Afghani tidak diizinkan berbuat banyak di Istambul. Setelah
itu gagasan pan- Islamimisme dengan cepat redup, terutama setelah turki usmani
bersama sekutunya jerman kalah dalam perang dunia I dan kekhalifahan dihapuskan
oleh Mustafa Kemal,tokoh yang justru mendukung gagasan nasionalisme, rasa
ksetiaan kepada Negara kebangsaan.
Gagasan nasionalisme yang berasal
dari barat itu masuk ke negeri-negeri muslim yang menuntut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga
pendidikan ’’Barat’’ yang didirikan di negeri mereka. Gagasan kebangsaan ini
pada mulanya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka islam Karen dipandang
tidak sejalan dengan semangat ukhuwah Islamiyah, akan tetapi ia berkembang
cepat setelah gagasan pan-Islamisme redup.[6]
Kalau di mesir bangkit nasionalisme
Mesir, di bagian Negara Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang
segera menyebar dan mendapat sambutan hangat sehingga nasionalisme itu
terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Demikianlah yang terjadi di Mesir,
Syiria, Libanon, palestina, Irak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein dan Kuwait.
Semangat persatuan Arab itu diperkuat pula oleh usaha Barat untuk mendirikan
Negara Yahudi ditengah-tengah bangsa Arab dan di negeri yang dihuni mayoritas
Arab. Namun, berbeda dengan negeri-negeri yang menyuarakan aspirasi
nasionalnya, bangsa Arab berada di dalam beberapa wilayah kekuasaan, bukan saja
karena banyaknya kerajaan tradisional, tetapi juga dan terutama karena
wilayahnya yang luas itu di bagi-bagi oleh penjajah barat.
E.
Kemerdekaan Negara-Negara Islam Dari penjajahan
Munculnya gagasan nasionalisme yang
diikuti dengan berdirinya partai-partai poltik merupakan modal utama uamt islam
dalam perjuagannya untuk memwujudkan Negara merdeka yang bebas dari pengaruh
politik barat. Dalam kenyataan, memang partai-partai itulah yang berjuang
melepaskan diri dari kekuasaan penjajah. Perjuagan mereka biasanya terwujud
dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti: 1. Gerakan polotik, baik dalam bentuk
diplomasi maupun perjuagan bersenjata, dan 2. Pendidikan dan propaganda dalam
rangka mempersiapkan masyarakat menyambut dan mengisi kemerdekaan itu.
Negara berpenduduk mayoritas muslim
yang pertama kali berhasil memproklamasikan kemerdekaannya adalah Indonesia
yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia merdekan dari pendudukan jepang
setelah jepang dikalahkan oleh Tentara Sekutu. Akan tetapi,rakyat Indonesia
harus mempertahankan kemerdekaanya itu dengan perjuangan bersenjata selama lima
tahun berturut-turut, Karen Belanda, yang didukung oleh Tentara skutu berusaha
menguasai kembali kepulauan ini.
Negara islam yang keduan yang
merdeka dari penjajahan adalah Pakistan, yaitu pada tanggal 15 Agustus 1947,
ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India kepada dua dewan konsistusi,
satu untuk india dan satu untuk Pakistan (waktu itu terdiri dari Pakistan dan
Bangladesh sekarang). Presiden pertamanya adala Ali Jinnah.
Demikianlah satu persatu
negeri-negeri islam memerdekakan diri dari penjajahan. Bahkan beberapa
diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun terakhir, seperti
negera-negara islam yang dulunya bersatu dalam Uni Soviet, yaitu Uzbekistan,
Turkmenia, Kirghistan, Kazahtan, Tasjikistan, dan Azerbaijan pada tahun 1992,
dan Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia juga pada tahun 1992[7]
BAB
III
PENUTUP
1. Kesimpulan
kemunduran tiga kerajaan islam di
periode pertengahan sejarah Islam, Eropa Barat sedang mengalami kemajuan dengan
pesat. Hal ini berbanding terbalik dengan dengan masa klasik sejarah Islam.
Kemajuan Eropa (Barat) memeng bersumber dari Khazanah ilmu pengetahuan dan
metode berpikir Islam yang rasional. Di antara saluran masuknya peradaban islam
ke Eropa itu adalah perang salib dan yang terpenting adalah Spanyol islam. Terangkatnya
perekonomian bangsa-bangsa Eropa di susul pula dengan penemuan dan perkembangan
dalam bidang ilmu pengetahuan. Perkembangan itu semakin dipercepat setelah
mesin uap ditemukanyang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa.
2. Saran
Demikianlah Makalh yang dapat saya
buat, mungkin makalah saya masih jauh dari kebenaran dan kesempurnaan, untuk
perbaikan makalah saya selanjutnya kritik dan saran dari pembaca sangat saya
harapkan untuk kedepannya lebih baik, semoga makalah ini bermanfaat amin,
terimakasih
DAFTAR
PUSTAKA
Badri Yatim, Seajarah Peradaban Islam,PT
Grafindo Persada, Jakarta, 1994.
Samsul Munir amin, Sejarah Peradaban Islam, Amzah,
Jakarta,2009
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,Prenada Media
Group, Jakarta, 2007
Adang Affandi,
Islam dan dunia, PT Angkasa, Bandung, 1987
[1] Badri
Yatim, Seajarah Peradaban Islam,PT Grafindo Persada, Jakarta, 1994, hlm 169
[2]
Samsul Munir amin, Sejarah Peradaban
Islam, Amzah, Jakarta,2009 hlm.347-348
[3]
Badri Yatim, op. cit.,hlm 170-171
[4]
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,Prenada
Media Group, Jakarta, 2007, hlm 222
[5]
Adang Affandi, Islam dan dunia, PT Angkasa, Bandung, 1987,hlm 89
[6]
Badri Yatim op. cit., 184-185
[7]
Ibid hlm 188-189
Komentar
Posting Komentar