Dampak globalisasi dan R.I 4.0 dalam pendidikan Islam dan menyikapinya
Penddidikan
Islam merupakan salah satu materi khusus dalam penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia. Pendidikan Islam punya tugas besar untuk membentuk manusia supaya keinginan-keinginannya tetap di jalur
yang benar. Oleh karena itu jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pendidikan
islam disini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama islam yang pada
gilirannya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan islam semacam marasah,
pesantren atau UIN (dulu IAIN). Akan tetapi yang dimaksud dengan pendidikan
islam adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim
terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji . Sehingga diharapkan akan
bermunculan anak-anak muda enerjik yang berotak Jerman dan berhati Makkah
seperti yang sering dikatakan oleh mantan Presiden B.J Habibie.[1]
Globalisasi acapkali difahami sebagai suatu kekuatan raksasa yang mempengaruhi
tata kehidupan dunia secara menyeluruh, simultan, dan berdampak multipayer
effects. Dengan pengaruh globalisasi, dunia terasa menjadi kecil dan
transparan. Masyarakat berkembang menuju knowledge
society, yakni masyarakat akademik atau post-copital
society. Dalam tata kehidupan modern, siapa yang cerdas dan memiliki
informasi, serta mampu mengelola komunikasi, dialah yang berkuasa dan memimpin
kehidupan ini. Dari sini kita menyadari baha biang keladi dari semua itu adalah
akal atau pemikiran. Barangkali satu-satu nya faktor terpenting penyebab
terjadinya kerusakan dan stagnasi pendidikan dan pemikiran adalah batasan Islam
tentang ilmu pengetahuanyang dapat diterima.
Masalah
pendidikan tidak lepas dari pengaruh pertumbuhan internasional secara global.
Masalah pengaruh globalisasi ini berada di seputar ketidakseimbangan kekuatan
dan kemajuan antara kelompok negara-negara utara dan selatan. Atau dalam skala
yang lebih kecil antara lapisan masyarakat dalam suatu negara, dimana lapisan
atas dan kaya memagang posisi membantu dan mengatur karena mereka mampu
menjangkau pendidikan dalam rangka menguasai informasi dan teknologi canggih.
Sementara lapisan bawah dan miskin berada pada posisi dibantu dan diatur karena
mereka terperangkap dalam kebodohan dan kemiskinan disebabkan tidak
terjangkaunya pendidikan bagi mereka.[2]
Dalam laporan badan Persrikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan
(UNESCO) 2007 Yng dirilis pada Kamis 29
November 2007 disebutkan bahwa, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun
dari 58 menjadi 62 dari 130 negara di dunia. Yang jelas, education development indeks (EDI) Indonesia adalah 0,935, dibawah
Malaysia (0,945) dan Brunei Darussalam (0,965). Mau tidak mau, hal tersebut
kemudian mengilustrasikan bahwa kualitas pendidikan kita pun semakin
dipertanyakan. Banyaknya anak-anak yang masih buta aksara merupakan bukti
konkrit bahwa masyarakat di Indonesia, khusunya pemerintah masih belum maksimal
dalam memperhatikan masalah pendidikan.[3]
Ada
banyak sekali tantangan dan masalah yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan
Islam di tanah air. Pertama,
tantangan yang hadir dari luar dan biasa disebut dengan global, dan kita harus
merebut peran dan bisa mengikuti perkembangan globalisasi, karena dalam era
globalisasi perkembangan tekhnologi dan informasi sangat cepat dan canggih
sekali. Maka pendidikan Islam harus ikut serta dan secara aktif merespons
dengan menawarkan segala hal sesuai dengan tuntutan zaman. Kedua, masalah dan tantangan otonomi pendidikan. Masyarakat yang
berkeinginan memajukan kehidupannya, haruslah berani melangkah atau melakukan
suatu kegiatan yang bercorak merombak atau memperbaiki kondisi yang sebelumnya
dinilai menghambat. Dalam karya-karya Tholchah Hasan, pendekatan konvengensi
atau pengintegrasian berbagai aspek telah dijadikannya sebagai pendekatan dalam
menilai kondisi sumber daya manusia. Sumber daya manusi tidak saja harus
dibangunkan dengan prinsip-prinsip nilai yang berasaskan agama tetapi
memerlukan rancangan yang bijak sesuai dengan masa depan perubahan. Dalam
tradisi pendidikan kita, perubahan harus berlaku supaya pendidikan nilai tidak
terasing dengan pendidikan yang bercorak ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
bersifat saintifik dan teknologi. Perubahan ini memadukan nilai-nilai agama,
tradisi, dan budaya yang maju supaya pendidikan berlaku secara integratif.
Integratif yang dimaksud adalah bagaimana sistem nilai membentuk asas berpikir
saintifik dan bagaimana nilai-nilai yang baik menjadi pedoman menghasilkan
ilmuwan saintis dan teknolog yang tahu tanggung jawab terhadap pengelolaan
sumber ekonomi dan saintifik serta kemajuan dan dalam masa yang sama tahu
tentang amanah Allah dan sistem.
Karya yang bisa
dihasilkan oleh manusia terdidik akan
memberikan kontribusi besar terhadap terwujudnya pembaruan dalam dunia
pendidikan Islam. Tanpa kerja keras (seperti terus berkarya), maka sulit
diharapkan dunia pendidikan Islam akan sampai pada tahap kemajuannya.[4]
[1]
Bashori Muchsin, Abdul
Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer,
(Bandung PT Revika Aditama, 2009) hlm 9-
12
[2]
Samsul Nizar, Muhammad
Syaifudin, Isu-Isu Kontemporer Tentang
Pendidikan Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 2010) hlm 62-63
[3]
Bashori Muchsin, Abdul
Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung , PT Refika Aditama, 2009) hlm
100
[4]
Buchori Muchsin, Abdul
Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer,
(Bandung PT Refika Aditama, 2009) hlm 67-70
Komentar
Posting Komentar