Hakikat Pendidikan Islam dalam globalisasi dan era revolusi 4.0

Pendidikan islam merupakan salah satu materi khusus dalam  penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tujuan dari pendidikan islam adalah menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.

Ketika sudah hidup di dunia, manusia mempunyai berbagai macam keinginan seperti keinginan berkumpul dengan lawan jenis, menyukai keindahan perhiasan, menduduki suatu jabatan, dan lainnya. Keinginan demikian itu tidak terlepas dari pengaruh sosial-edukasi yang mengarahkan atau membentuknya. Dan pada saat ini dunia telah memasuki era baru yakni millenium ke-3 yang beriringan dengan proses globalisasi dan revolusi industri 4.0. Proses ini bisa mempengaruhi atau berdampak besar terhadap seluruh aspek kehidupan tak terkecuali dalam bidang pendidikan di seluruh dunia Islam.

Hakikat Pendidikan Islam

Pendidikan dalam arti teoritis filosofis adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan kepada pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, rasional filosofis, maupun historis filosofis. Sedangkan pendidikan dalam arti praktik adalah suatu proses pemindahan atau transformasi pengetahuan ataupun pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal, serta membudayakan manusia melalui transformasi niai-nilai yang utama.[1]

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan islam secara sederhana dalam beberapa kajian yaitu, pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.[2]

Secara umum, pendidikan Islam bertujuan untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama islam, sehingga menjadi manusi muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[3]

Globalisasi dan Era revolusi 4.0

Globalisasi merupakan salah satu gelombang dahsyat yang melanda kehidupan manusia saat ini. Khususnya dalam kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berupa komputer dan internet. Awal dari era globalisasi ditandai dengan runtuhnya kekuatan besar Uni Soviet, dan berkembang pesatnya teknologi informasi (information technology/IT), yang dengannya dapat menghubungkan dunia secara elektronik dalam jaringan komputer global (world wide web/ www) dan perangkat-perangkat komunikasi global (internet).[4] Globalisasi bukan sekedar slogan ekonomi kapitalis dan bukan pula salah satu fenomena dalam ideologi kapitalisme yang beraneka ragam. Globalisasi adalah sebuah pemikiran ideologi kapitalisme yang komprehensif dan meliputi segenap aspek kehidupan, kendati pun yang menonjol adalah aspek ekonomi. Hal itu menunjukkan, bahwa budaya global pun bisa dengan mudah dijual pada masyarakat negara-negara lain melalui jaringan teknologi informasiatau kekuatan permodalnya.[5] Sejak 1970-an semakin banyak akademisi yang mengungkapkan konsep globalisasi untuk menjelaskan berbagai perubahan ekonomi, politik, dan kultural yang tengah terjadi. Menurut Held dan koleganya menjelaskan bahwa globalisasi adalah “a process or (a set of processes) which embodies a transformation in the spatial organization of social realition and transactions, -assessed in terms of their extensity, intensity, velocity, and impact-generating transcontinental or interregional flows and networks of activity, interaction, and exercise of power.” .

Berdasarkan definisi ini, globalisasi seharusnya dipandang sebagai proses yang kompleks, dan multi dimensional dan tidak semata-mata dipahami sebagai fenomena ekonomi, selain itu ia harus dipahami sebagai gejala lintas sejarah (trans historical phenomenon).  Dan globalisasi dari berbagai macam konsep lain yang menyertainya, pada dasarnya bisa diringkaskan menjadi tiga konsep dasar, yaitu: perubahan (change), akses pengetahuan dan informasi (access of information), dan keterhubungan (interaction). 

Revolusi industri terdiri dari dua  (2) kata yaitu revolusi dan industri. Revolusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti perubahan yang bersifat sangat cepat, sedangkan pengertian industri adalah usaha pelaksanaan. Istilah “Revolusi Industri” diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan LouiseAuguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Revolusi inipun sedang berjalan dari masa ke masa. Dekade terakhir ini sudah dapat disebut memasuki fase keempat 4.0. Perubahan fase ke fase memberi perbedaan artikulatif pada sisi kegunaannya.[6]

4IR menjelaskan perubahan ekponensial terhadap cara kita hidup,bekerja dan berhubungan satu sama lain karena disebabkan oleh adopsi cyber-phisical systems, internet of things dan internet of systems. 4IR dideskripsikan sebagai internet of things (IoT), yakni data dan layanan yang akan mengubah produksi masa depan, logistik, dan proses kerja. IoT adalah sebuah bagian integral dari internet masa depan dan dapat didefinisikan sebagai infrastruktur jaringan global yang dinamis.

Tujuan utama dari IoT adalah memungkinkan sesuatu (things) dihubungkan kapan saja, di mana saja, dengan apapun dan siapapun secara ideal menggunakan jaringan apa saja dan layanan apa saja. Sedemikian rupa sehingga akan meningkatkan produktivitas manusia.[7]



Sumber:

[1] Bashori Muchsin, Abdul Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung, PT Refika Aditama, 2009) hlm 1

[2] Ibid. hlm 1

[3] Nurl Hidayat, Urgensi Pendidikan Islam Di Era 4.0, (Mei, 2019) hlm 5

[4] Mahfud Junaidi,  filsafat Pendidikan Islam, (Prenada Media, 2019), hlm 362-363

[5] Bachori Muchsin, Abdul Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung, PT. Refika Aditama,2009), hlm 92

[6] Nurul Hidayat, Urgensi Pendidikan Islam Di Era 4.0, (Mei, 2019) hlm 7

[7] Mahfud Junaidi, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta, Prenamedia Group, 2019), hlm 377

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGERTIAN KEPUTUSAN TERPROGRAM DAN TIDAK TERPROGRAM

Metode Ushul Al-Masail dan Metode Tashih Al-Masail

MAKALAH Studi kelayakan bisnis Aspek Teknis Dan Teknologi